Transaksi Digital, Upaya Kita Memajukan Ekonomi Nasional Pasca Pandemi

Posted on

Semua akan berubah, tentu saja. 2020 akan menjadi sejarah bagi perubahan yang tak biasa. Perubahan yang menuntut penyesuaian diri paling ekstrim. Perubahan yang menggantungkan teknologi digital sebagai terobosan multi dimensi. Beruntung, teknologi bisa menjadi alternatif atas permasalahan ekonomi bangsa ini. Sekarang, saatnya mengucapkan selamat datang untuk masa depan gemilang. Nothing is impossible!

Geliat Pelaku Usaha di Tengah Perubahan Ekstrim Akibat Pandemi

Kita bukan bangsa yang lemah, tapi bangsa yang kuat dan sigap menyikapi setiap denyut nadi perubahan. Termasuk, perubahan paling ekstrim sekalipun. Ketika pandemi Covid-19 menjadi catatan sejarah kelam, kita berbenah, berubah, untuk terus bertumbuh. Salah satu bentuk perubahan itu, adalah bergeser dari sistem lama yang konvensional, menuju sistem baru yang serba digital.

Selalu ada hikmah di balik kesulitan, begitu filosofinya. Kecendurungan para pelaku usaha yang berangsur-angsur move ke basis daring (dalam jaringan, online), tak terlepas dari hikmah pandemi yang selama ini menguras energi. MarkPlus Inc, sebuah perusahaan riset pemasaran independen, mencatat aktivitas belanja online di Indonesia yang mengalami peningkatan dari 4,7 persen menjadi 28,9 persen setelah adanya Covid-19.

Yuk, Manfaatkan Transaksi Digital untuk Kemajuan Ekonomi Nasional!

Hasil riset itu ada benarnya. Buktinya, sejak pandemi, marketplace menjadi tempat belanja daring paling praktis, asyik dan tentu saja menyenangkan, bukan? Tak hanya itu, bahkan pemenuhan kebutuhan sehari-hari seperti makanan, minuman atau obat-obatan, pun kerap menggunakan layanan transportasi online. Tidak perlu repot, cukup dengan telepon pintar, semua bisa dilakukan dari rumah sembari rebahan.

Ngomong-ngomong peluang, pada akhirnya, bukan hanya pelaku usaha saja yang beralih dari offline ke online. Mereka yang terkena imbas PHK dan permasalahan ekomomi lainnya, kini mulai melirik peluang usaha dengan pendekatan daring. Media sosial mulai gencar digunakan sebagai ladang mencari nafkah. Beragam tawaran barang dan jasa dipromosikan. Tentu saja, lengkap dengan layanan jemput bola dan sistem pembayaran cash on delivery (COD).

Ini adalah awal untuk sebuah perubahan besar. Masih ingatkah dengan konsep revolusi industri 4.0 yang menjadi wacana global? Angela Merkel, seorang ilmuwan dan peneliti asal Jerman, menyebutkan, “Revolusi industri 4.0 akan menjadi transformasi komprehensif dari keseluruhan aspek produksi di industri melalui penggabungan teknologi digital dan internet dengan industri konvensional.”

Menjadi serba digital dalam bingkai “revolusi” seperti pendapat Merkel di atas, tentu bukan perkara sederhana. Kita tahu, dalam kata “revolusi” selalu ada konsekuensi pengorbanan ekstrim. Termasuk, revolusi industri 4.0, pun pastinya demikian.  Jika pandemi adalah pengorbanan ekstrim itu, maka kita harus membayarnya dengan cara yang ekstrim pula. Siap atau tidak, mau atau tidak, kita akan menjadikan era digital sebagai konsekuensi demi menyambut masa depan gemilang di era 4.0.

Menyambut Lahirnya Budaya Baru Bernama Transaksi Digital

Disadari atau tidak, pandemi telah melahirkan banyak kebiasaan baru. Termasuk, kebiasaan masyarakat dalam melakukan transaksi keuangan. Orang-orang yang sebelumnya hanya mengenal uang tunai sebagai satu-satunya alat pembayaran, sejak pandemi, seperti “dipaksa” untuk mengenal apa itu transaksi digital. Bahkan, mereka yang tadinya hanya mengenal ATM dan kunjungan ke bank sebagai bentuk layanan keuangan, mendadak terheran-heran karena mobile banking ternyata bisa menjawab semua tuntutan dan kebutuhan itu.

Tidak sedikit yang akhirnya berujar bahagia, “Jika bertransaksi bisa semudah ini, mengapa tak sejak dulu menggunakannya?” Membayar tagihan listrik, PDAM, cicilan-cicilan, hingga membeli pulsa seluler, ternyata bisa seasyik dan sepraktis itu. Melalui transaksi digital, perlahan-lahan kita belajar melawan pemeo gaptek (gagap teknologi). Anggapan bahwa transaksi digital hanya dilakukan oleh kalangan tertentu, pun sekarang mulai pupus. Ini karena orang yang merasa awam sekalipun, bisa belajar dan akhirnya menikmati.

Bukan hanya itu saja, jauh hari sebelum pandemi, beberapa tempat usaha (merchant) sudah menikmati mudahnya bertransaksi non tunai menggunakan beragam platform. Munculnya Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) seperti OVO, LinkAja, GoPay, DANA, dan masih banyak lagi, adalah magnet bagi konsumen untuk bergeser dari budaya tunai menjadi non tunai. Kedai kopi, rumah makan, toko-toko, sudah bisa menghadirkan teknologi canggih ini. Semua, demi mengejar kepraktisan dan pelayanan prima bagi konsumen setianya.

Dukungan Bank Indonesia untuk Meningkatkan Ekonomi Nasional

Perlu diketahui, Bank Indonesia (BI), sejak 1 Januari 2020, telah memberlakukan kebijakan penggunaan standar Quick Response (QR) Code sebagai media pembayaran melalui aplikasi uang elektronik server based, dompet elektronik, atau mobile banking yang disebut QR Code Indonesian Standard (QRIS). Dengan program ini, pemilik usaha yang menyediakan sistem pembayaran digital berbasis QR Code, tak lagi direpotkan dengan memajang banyak QR Code. Ini karena QRIS dapat dipindai menggunakan aplikasi pembayaran QR apapun.

Yuk, Manfaatkan Transaksi Digital untuk Kemajuan Ekonomi Nasional!

Bagi masyarakat luas, kepekaan Bank Indonesia dalam menghadirkan QRIS, adalah kabar baik. Kita bisa segera menikmati mudahnya bertransaksi digital. Dengan dukungan pemerintah, masyarakat akan menganggap transaksi digital itu legal, aman, nyaman, disarankan, dan diayomi negara. Ini wajar, karena bagi sebagian orang, kehadiran teknologi baru, apalagi yang menyangkut keuangan, acap kali membuat was-was. Bukan tanpa sebab, ini hanyalah ketidaktahuan yang sifatnya sementara.

Sekarang, bagaimana caranya agar pemilik usaha dan masyarakat dapat segera menikmati QRIS sebagai platform pembayaran digital? Berikut caranya :

Cara Menggunakan QRIS bagai Pemilik Usaha (Merchant)

  • Wajib memiliki akun, jika belum, bisa datang ke kantor cabang atau mendaftar online pada salah satu PJSP penyelenggara QRIS yang terdaftar ​.
  • Melengkapi data-data usaha dan dokumen lain yang diminta oleh PJSP tersebut.
  • Menunggu proses verifikasi, pembuatan Merchant ID, dan pencetakan kode QRIS oleh PJSP.
  • PJSP akan mengirimkan stiker QRIS.
  • Menginstal aplikasi sebagai merchant QRIS.
  • PJSP melakukan edukasi kepada merchant mengenai tata cara menerima pembayaran.
Yuk, Manfaatkan Transaksi Digital untuk Kemajuan Ekonomi Nasional!

Cara Menggunakan QRIS Bagi Masyarakat

  • Apabila belum memiliki akun, lakukan registrasi terlebih dahulu dengan mengunduh salah satu aplikasi PJSP berijin QRIS yang terdaftar.
  • Lakukan registrasi sesuai prosedur PJSP tersebut.
  • Isi saldo pada akun PJSP yang sudah dipilih dan terinstal.
  • Gunakan untuk melakukan pembayaran pada merchant QRIS sesuai petunjuk di aplikasi yang dipilih.
  • Buka aplikasi, cari icon scan/gambar QR/pay, scan QRIS merchant, masukan nominal, masukan PIN, klik bayar, lihat notifikasi.

Agar lebih jelas dan terhindar dari keragu-raguan, silahkan berkunjung langsung ke website resmi Bank Indonesia guna mengetahui lebih banyak tentang QRIS. Jangan lupa untuk mengecek PJSP mana saja yang legal dan terdaftar oleh Bank Indonesia.

Alasan Mengapa Transaski Digital Itu Penting

Jika pandemi adalah jembatan emas menuju revolusi industri 4.0, maka ada 2 pihak yang sekarang tengah bersiap-siap menyambut penggunaan transaksi digital secara masif. Pertama, kita sebagai bagian dari masyarakat itu sendiri. Kedua, para pelaku usaha, khususnya UMKM, yang merupakan jantung ekonomi negeri. Tentu saja, ada alasan kuat mengapa transaksi digital menjadi begitu penting dan harus segera dilakukan :

Keuntungan Transaksi Digital Bagi Masyarakat

Keuntungan Transaksi Digital

Mengurangi Risiko Penyebaran Virus

Selagi Covid-19 masih menjadi masalah, penyebaran uang tunai tetap perlu diwaspadai. Peneliti badan sains nasional Australia, CSIRO, telah melakukan riset yang dipublikasi di Virology Journal, bahwa Virus SARS-COV-2 yang menyebabkan Covid-19, dapat bertahan di uang kertas sampai 28 hari. Ini lebih lama dari virus influenza yang umumnya hanya 17 hari. Menghindari peredaran uang kertas, berarti mengurangi risiko penyebaran dan tertularnya virus.

Tuntutan Perkembangan Zaman

Data dari ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK), di tahun 2019, atau sebelum pandemi, aktivitas mobile banking telah mencatatkan sekitar 2,4 miliar transaksi, atau setara hampir Rp 4.000 triliun. Termasuk, 97 persen transaksi perbankan, sudah dilakukan di luar kantor bank. Jika data itu rilis sebelum pandemi, maka ke depan, transaksi digital akan semakin masif lagi. Artinya, masyarakat yang tak bergegas menyesuaikan, akan ketinggalan dan banyak menemui kendala dalam sistem pembayaran. Dengan dalih apapun, perubahan zaman tak pernah bisa dihindari.

Praktis dan Nyaman

Kita tidak perlu lagi mengantre di bank atau ATM, menunggu kasir menyiapkan uang kembalian di outlet-outlet, atau datang ke loket konvensional untuk melakukan beragam jenis pembayaran. Dengan transaksi digital, biaya transportasi dan akomodasi dapat ditekan. Termasuk, produktivitas masyarakat yang akan semakin meningkat. Ini karena transaksi digital sangat praktis dan nyaman. Bisa dilakukan dari mana saja, kapan saja.

Kesejahteraan Meningkat

Tentu kita sepakat, kemajuan ekonomi suatu negara, akan berimbas pada kesejahteraan masyarakatnya. Jika kita telah sadar akan pentingya transaksi digital, maka negara bisa mengontrol stabilitas ekonomi dan menghindari bahaya resesi. Artinya, pemerintah bisa lebih fokus dan leluasa untuk mensejahterakan kita semua. Contonya, membuka peluang lapangan kerja baru, mendukung kemajuan UMKM, mengentaskan kemiskinan dan kesenjangan sosial, menciptakan kualitas sumber daya manusia unggul dan kompetitif, dan masih banyak lagi.

Keuntungan Transaksi Digital Bagi Pelaku Usaha, Khususnya UMKM

Transaksi Digital, Upaya Kita Memajukan Ekonomi Nasional Pacsa Pandemi

Tuntutan Gaya Hidup (Life Style)

Pernah dengar kutipan ini, “Lifestyle can be viewed as a unique pattern of living which influences  and is reflected by one’s consumption behavior”  dari buku populer berjudul Consumer  Behavior karya David L. Loudon? Ya, kita yakin bahwa gaya hidup (life style) punya peranan dahsyat dalam mempengaruhi perilaku konsumen. Pelaku usaha yang peka terhadap tuntutan gaya hidup, memiliki kesempatan sukses lebih besar karena mampu menjawab tuntutan konsumen potensialnya.

Mengontrol Manajemen Usaha

Tanpa manajemen yang baik, suatu usaha bisa dipastikan akan mengalami banyak permasalahan. Produk habis, uang pun ikutan habis, begitu pemeo umum. Transaksi digital membuat pelaku usaha mudah melakukan check and balance pada alur keuangan. Dalam sebuah manajemen profesional, transaksi digital memungkinkan pelacakan (tracking) alur keuangan dengan jelas, rapih, dan terstruktur. Tumpukan kertas sebagai media pencatatan konvensional, sudah bisa ditinggalkan. Lebih hemat, dan tentu saja ramah lingkungan.

Menghidari Fake Transfer Bagi Online Shop

Belakangan, sering terdengar keluhan beberapa pemilik online shop (selain di marketplace), karena tertipu dengan transfer palsu (fake transfer), yang diedit sedemikan rupa agar terkesan meyakinkan. Tidak menggunakan mobile banking, adalah salah satu penyebabnya. Dengan transaksi digital, pemilik online shop bisa menghindari fake transfer. Ini karena bisa mengecek data transfer secara real time melalui mobile banking.

Memungkinkan Integrasi Data

Konsep digitalisasi tidak terlepas dari basis data (database) yang tersimpan di server. Ke depan, data dalam transaksi digital dapat diintegrasikan dengan platform atau aplikasi lain, sebagai upaya kendali data penuh. Keuntungannya, pelaku usaha bisa mengontrol bisnisnya sekaligus melakukan analisis data secara global dan akurat. Fungsinya, sebagai upaya restrukturisasi usaha, penetapan kebijakan usaha, dan upaya lainnya untuk terus memajukan usaha.

Menarik Pelanggan dengan Promo Menarik

Tidak bisa dipungkiri, banyak PJSP yang berupaya menawarkan aneka promo dalam bentuk diskon, cashback, dan sejenisnya. Tujuannya, untuk menarik lebih banyak user baru. Jika pemilik usaha cerdik membaca peluang ini, tentu bisa menarik lebih banyak pelanggan agar datang ke merchant. Lagi pula, platform advertiser seperti Google Ads, Facebook Ads, atau Instagram Ads, bisa menjadi solusi efektif untuk menggabungkan sekian banyak promosi, termasuk menawarkan promo menarik dari PJSP pilihan kita kepada calon konsumen.

Tugas Kaum Milenial Sebagai Agen Perubahan (Agent of Change)

Kaum milenial selalu punya selera tinggi terhadap teknologi, terutama internet. Hasil riset Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), ada 171,17 juta pengguna internet Indonesia di tahun 2018. Berdasarkan umur, pengguna internet lebih dikuasi oleh milenial. Segmen usia 15-19 tahun mempunyai penetrasi paling tinggi hingga 91%. Sementara, usia 20-24 tahun, memberikan penetrasi sebesar 88,5%.

Dari hasil riset di atas, kaum milenial adalah pengguna internet terbesar yang juga punya peranan menciptakan perubahan besar dalam dunia digital. Tidak berlebihan, jika milenial sering digaungkan sebagai agen perubahan (agent of change). Di tangan milenial, segala sesuatu yang berhubungan dengan teknologi, akan begitu cepat menyebar. Sebagai contoh, platform sosial “KitaBisa,” adalah bukti bahwa milenial mampu menciptakan perubahan dengan cara dan gaya yang unik.

Memang, sebuah teknologi digital yang nyata-nyata memberikan manfaat, cepat atau lambat, pasti akan digunakan secara luas. Kendati demikian, bukan berarti kaum milenial tak punya alasan untuk turut mengkampanyekan transaksi digital menggunakan QRIS yang nyata-nyata telah dimudahkan dan difasilitasi oleh Bank Indonesia. Alasannya sangat logis, sebagai agent of change, kaum milenial memiliki tugas dan tanggungjawab untuk membantu pemerintah membangun ekonomi, khususnya di masa pasca pandemi ini yang sulit ini.

Jika melihat histori bangsa ini, kaum muda selalu menjadi garda depan bagi revolusi di tanah air. Lahirnya Budi Utomo (1908), Sumpah Pemuda (1928), hingga peristiwa Rengasdengklok (1945), adalah bukti bahwa kaum muda selalu bisa melakukan perubahan, termasuk yang anti mainstream sekalipun. Sekarang, negara memanggil kita untuk mengkampanyekan manfaat transaksi digital melelui QRIS demi kemajuan ekonomi nasional. Maka, sudah saatnya kita ambil bagian dari tugas mulia ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *