cara menawarkan produk

Cara Menawarkan Produk dengan 7 Rahasia Perseption Magic

Posted on

KontenBisnis – Cara menawarkan produk yang kami bahas kali ini, adalah dengan metode persepsi. Anda bisa menerapkan hal ini untuk jualan online maupun secara tatap muka (offline).

Cara Menawarkan Produk dengan Prinsip Perseption Magic

Berikut adalah cara menawarkan produk dengan prinsip perseption magic yang bisa Anda coba untuk menjual produk Anda :

1. Gunakan Tagline yang Kuat Agar Produk Anda Dipercaya

Anggap saja, kami ingin menjual dua botol hand sanitizer, A dan B.

Keduanya dibuat dari bahan yang sama, termasuk menggunakan jenis botol yang sama.

Tapi :

  • Botol A polos, tidak ada gambar atau tulisan apa-apa.
  • Botol B sudah ditempel merk HYGIENE dan bertuliskan “Kills 99,9% Germs”.

Sebelum kami mengatakan kalimat apapun, kira-kira, Anda lebih yakin dengan botol yang mana, nih? A atau B?

Pasti dong, Anda lebih yakin dengan botol yang B? Mengapa?

Karena kami berhasil membuat tagline yang tepat, sesuai harapan Anda.

Dan tagline itu, telah membuat persepsi Anda tentang produk B sungguh sangat jauh berbeda dibanding A.

Pertanyaannya sekarang :

  • Apakah tagline itu sama dengan merk?
  • Bagaimana cara menawarkan produk dengan prinsip tagline?

Tagline bukan merk, tapi tagline adalah ruh dari si merk itu sendiri.

  • Contoh merk : HYGIENE
  • Contoh tagline : Kills 99,9% Germs.

Merk memang punya pengaruh kuat dalam membangun persepsi.

Tapi, tagline tak kalah kuat dalam menyempurnakan kekuatan merk hingga membentuk persepsi yang sangat-sangat “magic”.

Anda mungkin kenal dengan merk “ENERGEN” yang disertai tagline “Minum Makanan Bergizi”.

gambar energen png

Tahukah Anda, bahwa Energen sangat cerdas dalam membuat tagline itu?

Ya. Energen yang sebetulnya “minuman”, dipersepsikan sebagai “makanan”, disempurnakan lagi dengan kata “bergizi”. Sempurna, deh!

Sekarang, ketika orang mengkonsumsi Energen, mereka akan mempersepsikan sebagai makanan, bukan semata minuman!

Padahal, Energen tetap saja disajikan dengan gelas dan lebih sering diseruput (seperti teh, kopi) daripada disendoki (seperti sup atau nasi putih).

Baik. Kita kembali ke awal…

Bagimana cara menawarkan produk dengan tagline?

Kuncinya, Anda harus mampu membumikan tagline atas produk apapun yang Anda jual.

Contoh tagline produk :

  • Aulia Hijab, kerudung syar’i kelas atas.
  • HoneyKids, madu kecerdasan dan kesehatan anak.
  • Marissa, sprei halus, setara dengan kehalusan sutera.

Dan sebagainya…

Khusus untuk Anda yang sering jualan online, silahkan dengungkan (gembar-gemborkan) tagline seperti itu, sesering mungkin, namun tetap proporsional.

Buatlah agar merk dan tagline produk Anda membekas di alam bawah sadar calon pembeli Anda.

Ini akan memunculkan efek yang luar biasa…

“Kualitas boleh sama, tapi tagline, akan membuat pandangan seseorang menjadi berubah. Sekarang, tugas Anda adalah mencari tagline yang tepat dan paling mewakili produk Anda”

2. Tampilkan Produk dengan Visualisasi Istimewa Agar Cara Menawarkan Semakin Menggoda

Anggap saja, kami dan Anda diminta untuk menawarkan jaket cewek di Facebook kita masing-masing.

Bentuk, ukuran, warna dan desainnya, sama persis, nggak ada bedanya sama sekali. Soalnya, kita ambil dari supplier yang sama.

Bedanya :

  • Anda memposting foto jaket tersebut dalam keadaan masih dilipat dan dengan kamera HP yang jelek.
  • Sementara, kami menggunakan foto model cantik dan difoto dengan kamera DSLR sehingga hasilnya artistik.

Jujur saja nih, kira-kira, calon pembeli akan lebih tertarik dengan postingan Anda atau postingan kami?

Pasti akan tertarik dengan postingan kami, dong?

Mengapa?

Ini karena kami mampu membangun persepsi (yang berbeda) terhadap jaket yang kami visualisasikan menarik.

Dengan pola visual, syaraf sensorik seseorang akan lebih mudah memproses informasi dan membenamkannya dalam pikiran mereka.

Ketika seseorang melihat jaket cewek (yang juga dikenakan oleh foto model cantik), yang terjadi adalah :

  • Seseorang membayangkan dirinya akan secantik dan seluwes si foto model itu.
  • Walaupun, pada kenyataanya tidak selalu seperti itu.
model jaket cewek

Ya jelas saja, untuk bisa tampil cantik seperti foto model dalam gambar, sejujurnya ada banyak sekali faktor yang dimanipulasi.

Manipulasi apaan?

  • Si foto model, sengaja dipilih yang cantik, langsing dan tinggi, tidak semua orang dipilih. Ini adalah bentuk manipulasi karena tidak mewakili penampilan semua orang.
  • Fotografer, mampu membidik gambar dari sudut (angel) tertentu, sehingga kelihatan lebih menarik. Ini juga teknik manipulasi dalam seni fotografi.
  • Selain jaket, pakaian lain yang dikenakan foto model, sengaja dipilih dengan model dan warna selaras dengan jaketnya. Ini juga pengkondisian, yang artinya manupulatif.
  • Belum lagi lokasi (background), pencahayaan, hingga editing foto yang dibuat sedemikian bagusnya. Apa ini bukan manipulasi?

Dari sini kita jadi paham, cara menjual produk dengan teknik persepsi, memang benar-benar magic.

Dan sekarang, tugas Anda adalah :

“Apapun produk yang Anda jual (apalagi menjual online), jangan main-main dengan tampilan visual.  Ini adalah upaya paling magic untuk membangkitkan persepsi positif dari si calon pembeli Anda”.

3. Gunakan Cara Menawarkan dengan Kalimat yang Berbeda, Ini Juga Magic!

Saat artikel ini dibuat, virus Covid 19 sedang mewabah. Makanya, selain hand sanitizer, kami masih memberi contoh seperti ini:

Kami menjual masker kain, Anda pun sama. Merknya dan kualitasnya sama, karena ambil dari supplier yang sama.

Anda membuat kalimat penawaran seperti ini :

“Dijual masker kain berkualitas, minat pm”

Sementara, cara kami menawarkan, adalah menggunakan kalimat ini :

“Masker kain kesehatan untuk antisipasi Covid 19. Aman karena menggunakan 2 lapis kain yang lembut. Anda berasa tak pakai masker…”

Jika ada calon pembeli, tentu saja akan lebih tertarik dengan kalimat penawaran yang kedua, bukan?

Pada kalimat tersebut, kami tak hanya membangkitkan rasa penasaran, melainkan mampu menumbuhkan rasa kepercayaan.

Ingat, produknya sama, hanya kalimat penawarannya yang berbeda.Tapi persepsinya (pandangannya) berbeda, kan?

Dalam bidang pemasaran, proses menulis kalimat penawaran seperti ini, sering disebut sebagai copywriting. Anda mungkin pernah dengar.

Ngomong-ngomong tentang copywriting, banyak sekali teorinya.

Tapi menurut kami, jangan terlalu pusing, gunakan saja prinsip “Pembeli Itu Egois” (atau disingkat PIE).

Apa itu PIE?

PIE adalah teknik menulis kalimat penawaran yang berusaha untuk memuaskan ego calon pembeli.

Karena pada dasarnya, pembeli itu egois.

Bukti bahwa pembeli egois :

  • Menginginkan kualitas terbaik dengan harga termurah.
  • Mau membeli barang mahal jika kualitasnya melebihi harganya.

Sementara penjual, sadar betul bahwa setiap kualitas tinggi, selalu ada risiko harga tinggi pula. Ini seperti sudah menjadi hukum alam.

Kalau saling tarik menarik, tentu tidak akan ketemu, bukan?

Tapi sebagai penjual, Anda beruntung! Karena faktanya, penjual biasanya selalu jauh lebih cerdik dibanding pembeli.

Ada-ada saja akalnya untuk membabat habis egoisme pembeli.

Salah satunya, ya dengan copywrting itu tadi.

copywriting dalam penjualan

Pada dasarnya, copywriting memang dikhususkan untuk membangun persepsi :

Misalnya mempersepsikan tentang :

  • Kualitas rata-rata, menjadi terbaik di kelasnya.
  • Mahal menjadi sesuai dengan gaya hidup Anda.
  • Dan masih banyak lagi..

Lalu apa hikmah dari konsep cara menawarkan produk dengan kalimat penawaran yang “berbeda” ini?

“Setiap kali Anda membuat kalimat penawaran (copywrtiting), posisikan diri Anda sebagai calon pembeli. Tulis apapun yang membuat ego pembeli terpuaskan. Tapi ingat, jangan terlalu bombastis apalagi mengada-ada.”

4. Membangkitkan Persepsi dengan Bukti Sosial, Ini Ide yang Jenius

Pada dasarnya, manusia memang senang ikut-ikutan.

  • Temannya beli produk A, ia juga beli.
  • Yang lain belanja online, ia juga ikutan.

Maka tidak heran jika belakangan muncul istilah “wajah glowing” yang kemudian diikuti dengan popularitas skin care.

Mengapa banyak perempuan yang akhirnya membeli skin care (dan kemudian) orang yang jualan skin care laku?

Jawabannya sudah pasti, karena ikut-ikutan.

Ketika banyak orang yang tampak menggunakan suatu produk, dan ternyata produk itu sesuai harapan, maka akan diikuti oleh sebagian yang lainnya lagi.

Pola ikut-ikutan semacam ini, pun sudah seperti hukum alam.

Di balik istilah ikut-ikutan, sebenarnya tersimpan konsep yang menurut kami lebih magic.

Apa itu?

“Seseorang akan percaya dengan suatu produk jika sudah banyak orang yang menggunakannya dan membuktikannya”

Dari sini, jika kita bertanya bagaimana cara menawarkan produk dengan pola ini, maka jawabannya ciptakan persepsi “ramai” atau “banyak yang memakai” atau “sudah dibuktikan oleh banyak orang”.

Bagaimana penerapannya?

Mirip seperti sales panci yang keliling kampung. Sekalipun Anda menjual secara online, prinsip bekerja sales keliling akan tetap worth it.

Bayangkan, sales itu :

  • Berkunjung ke rumah Ibu A, si Ibu membeli, dicatat namanya.
  • Singgah ke rumah Ibu B, Ia membeli, dicatat namanya.
  • Berkunjung ke rumah Ibu C, lalu bertanya apakah mengenal ibu A dan B?
  • Jika prospek mengatakan kenal, sales akan menyebutkan bahwa ibu A dan B juga beli.

Menawarkan dengan pola seperti ini, sesungguhnya sedang menggunakan persepsi “ramai” atau “sudah banyak yang menggunakan”, seperti yang disebutkan di atas.

kerumunan

Dengan begini, ketika benar seseorang membutuhkan produknya, akan sulit menolak suatu penawaran.

Mengapa? Karena ia percaya dan ada buktinya, tetangga-tetangganya juga membeli.

Lalu bagaimana pola “ramai” ini digunakan sebagai cara menawarkan produk di sosial media?

  • Tunjukkan dengan bukti, bahwa produk Anda ramai pembeli. Entah dengan gambar, video, story telling, atau apapun.
  • Tampilkan testimoni bernada puas, bentuknya bisa berupa screenshoot chat dengan pembeli-pembeli yang merasa puas.

 Lalu apa simpulannya?

“Seseorang akan mudah tergiur untuk membeli suatu produk jika ia tahu bahwa sudah banyak orang yang menggunakannya dan merasa merasa puas. Pastikan puas betulan, karena jika tidak, hubungan jangka panjang Anda dengan pembeli akan terganggu”

5. Membangkitkan Rasa Suka, Seperti Cara Oppo Menawarkan Produknya

Oppo tidak sembarangan memilih model iklan untuk produknya.

Anda mungkin tidak sadar, jika nama-nama seperti :

  • Raisa
  • Isyana Sarasvati
  • Chelsea Islan

Adalah model iklan Oppo yang punya karakter dengan benang merah yang rata-rata sama.

Apa itu?

Mereka adalah orang-orang “disukai” karena punya kepribadian menarik dan bakat yang cemerlang.

Anda pasti tahu bahwa di Indonesia banyak artis, tapi coba renungkan dengan ketiga nama tersebut!

Istimewa bukan?

Ya, ini adalah kecerdasan Oppo. Mereka ingin membuat produknya disukai dengan bantuan “persepsi” atas rekam jejak si artis-artis berkarakter “baik” tersebut.

Isyana sarasvati model iklan Oppo

Apa rahasia magic di balik ini?

Rasa suka terhadap seorang model iklan suatu produk, akan mendongkrak persepsi orang terhadap produk yang diiklankannya.

Ini menarik, bukan? Lalu bagaimana dengan Anda?

  • Jika Anda menjual suatu produk (anggap produk kecantikan), pribadi Anda akan riskan dipersepsikan sebagai wakil atas produk tersebut. Maka hati-hati menjual skin care jika wajah Anda masih jerawatan.
  • Termasuk Anda juga akan kesulitan jika Anda menjual produk pelangsing, jika (maaf) Anda sendiri tidak punya kriteria langsing.

Contoh yang nyata, Anda mungkin sering melihat SPG kosmetik yang berpenampilan cantik, bukan?

Sesungguhnya, ia adalah model yang ditugaskan untuk mempersepsikan produk yang dijual.

“Dalam lingkup yang lebih luas, cara memasarkan menggunakan prinsip ‘suka’ adalah membuat calon pembeli merasa suka dengan siapapun yang dianggap mewakili produk itu. Jika sudah suka, persepsi percaya akan lebih mudah dibangun.”

6. Pelajari Hukum Timbal Balik, Cocok untuk Mencari Pembeli di Media Sosial

Menawarkan produk di media sosial itu cukup rumit, khususnya yang menggunakan akun gratisan.

Karena media sosial memang untuk bersosial, maka membangun persepsi di medsos, sudah pasti wajib dilakukan.

Bahkan sedemikian pentingnya, banyak pakar penjualan yang mengatakan bahwa :

“Sebaiknya medsos dioptimalkan untuk membangun persepi, jangan terlalu brutal untuk menjual. Ini riskan ditolak”.

Media sosial juga mengenal hukum timbal balik, “Bahwa jika seseorang baik kepada kita, maka kita wajib membalasnya”.

Tapi yang jadi masalah, baik kepada teman di medsos pun, tak menjamin produk kita laku.

Mengapa? Karena di jualan di media sosial, kita mengenal istilah target market potensial.

Contoh tentang prinsip target market potensial, misalnya kita akan kesulitan menjual jika :

  • Menawarkan produk MLM kepada teman yang tidak percaya dengan MLM.
  • Menjual gamis seharga 1.000.000 kepada mereka yang tidak pernah kepikiran untuk membeli barang semahal itu.
  • Mempromosikan aksesoris mobil kepada teman yang tidak punya mobil.
  • Dan sebagainya…

Secara teknis, kami sudah pernah membahas materi tentang cara menawarkan produk di media sosial melalui artikel ini.

7. Gunakan Prinsip Eksklusif yang Dibalut Keterbatasan, Ini Ngeri-Ngeri Sedap!

Banyak penjual yang ingin meniru kinerja iPhone dalam mempersepsikan produknya.

Karena suatu produk dikatakan terbatas, orang rela mengantre berhari-hari demi menjadi yang pertama untuk sebuah produk yang dianggap eksklusif.

Padahal, eksklusif sendiri, juga tentang persepsi, bukan?

Terkadang ada yang mengatakan ini terkesan norak, tapi ketika persepsi semacam ini dibangun, pelanggan bisa amat jatuh hati dengan suatu brand.

teknik pemasaran iphone

Dalam praktik pemasaran, menyebutkan bahwa suatu produk terbatas (padahal aslinya tidak), juga sering dilakukan.

Apa tujuannya? Apalagi kalau bukan untuk membuat orang mempersepsikan bahwa produk tersebut eksklusif?

Sampai di sini kami tidak tahu, apakah kobohongan “pemasaran” semacam ini berdosa apa tidak.

Jika Anda punya rujukannya, silahkan tulis di kolom komentar.

“Suatu bisa dipaksa untuk dipersepsikan eksklusif dengan menggunakan dalih terbatas jumlah stoknya. Sejauh ini, cara ini cukup efektif”

Simpulan

Cara menawarkan produk dengan rahasia perseption magic di atas, mudah-mudahan akan menambah pengalaman Anda dalam menjual. Uniknya, ternyata persepsi itu dapat diciptakan dan dimanipulasi. Tergantung bagaimana kreativitas Anda.

1 comment

  1. Artikel nya sangat bermanfaat kak…..saya pribadi termasuk penjual online yang belum terbiasa menggunakan tehnik tehnik diatas (tergolong penjual biasa biasa saja) mungkin solusi nya harus dirubah cara jualan nya ya kak… Tapi emang terasa berat kalau belum kak ya… Sukses selalu buat mimin.. Terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *