Cara Bersaing dengan Kompetitor untuk Warung, Toko dan Minimarket

Cara Bersaing dengan Kompetitor untuk Warung, Toko dan Minimarket

Posted on

KontenBisnis.comCara bersaing dengan kompetitor adalah pertanyaan umum yang sering ditanyakan oleh pemilik warung, toko atau minimarket. Mari kita membuka lebih dalam apa dan bagaimana cara menghadapi persaingan dengan cara yang unik.

Persaingan Adalah Sesuatu yang Ambigu

Apapaun jenis usaha Anda, merasa memiliki pesaing (kompetitor) adalah hal yang wajar.

Tapi, kami memiliki sudut pandang yang unik dalam menilai persaingan.

Apa itu?

Menurut kami, persaingan adalah sesuatu yang ambigu (bisa bermakna ganda). Ini tergantung bagaimana kita menilainya.

Persaingan itu bisa saja benar-benar ada, atau bahkan tidak ada sama sekali.

  • Jika Anda merasa bersaing dengan seseorang, Anda akan punya pesaing.
  • Tapi, jika Anda tidak merasa punya pesaing, Anda tidak punya pesaing.

Lalu apa bedanya? Kok jadi muter-muter?

Merasa Bersaing

Seseorang yang merasa bersaing dengan kompetitor (punya saingan), biasanya akan berfokus pada strategi untuk mematahkan lawan atau si pesaingnya itu.

Akibatnya, apapun strateginya, cenderung akan diupayakan agar merasa dirinya lebih unggul dibanding pesaingnya.

Kalau sudah seperti ini, riskan sekali munculnya :

  • Unsur-unsur emosional (benci, marah)
  • Persaingan tidak sehat (perang harga)
  • Tindakan menyimpang (perdukunan, mistis)

Merasa Tidak Bersaing

Sebaliknya, merasa tidak bersaing, tidak perlu memusingkan orang lain. Ia akan berfokus pada dirinya sendiri.

Strategi apapun yang ditempuh, tidak bermaksud ditujukan untuk siapapun. Melainkan semata-mata untuk melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan.

Apa efeknya :

  • Hati adem, tidak perlu benci dan marah.
  • Tidak begitu memerlukan dukun atau jasa sejenis.
  • Mau menjual lebih mahal dibanding pesaing, nggak masalah.
  • Pembeli pindah ke toko lain, tidak akan pusing.

Ia tenang. Tapi diam-diam, segudang ide dan rencana telah dikantongi demi untuk memantaskan dirinya.

Apa tadi? Ya, memantaskan dirinya.

Target Market Adalah Sesuatu yang Unik

Ingat, pembeli (target market) adalah sesuatu yang unik. Anda harus benar-benar mempelajari hal ini.

  • Anda menjual produk lebih mahal, nyatanya tetap ada yang beli.
  • Sebaliknya, Anda menjual murah, tetap ada kemungkinan jarang pembeli.

Lalu apa sebenarnya yang sedang terjadi?

Sangat susah untuk ditebak. Tapi intinya, tidak selalu karena permasalahan harga.

Bisa jadi, di toko Anda masih punya hutang, dia malu. Akhirnya, belanja ke tempat lain (kompetitor). Masuk akal, kan?

Atau bisa jadi, karena faktor lain yang bahkan Anda sendiri sama sekali tidak pernah tahu.

“Tapi kenyataannya, memang harga di sana lebih murah kok. Wajar dong kalau kita menduga bahwa ini karena permasalahan harga?”

Menurut kami, bukan masalah harga. Tapi justru masalah “selera.”

Apa itu selera?

Selera itu ya “suka-suka dia”, mengapa Anda yang repot?

Kalau sudah “suka-suka dia”, artinya, ini menyangkut batin seseorang.

Pertanyaan kami sekarang, pentingkah mengurus batin atau isi hati seseorang?

Tidak penting! Lebih baik, fokus ke diri sendiri, memantaskan diri.

Cara Bersaing dengan Kompetitor adalah Kuatkan Idealisme Usaha

Sampai saat ini, apakah Anda masih merasa punya saingan? Jika masih, silahkan Anda cari artikel lainnya dengan kata kunci “cara bersaing dalam berdagang”.

Anda bisa mempelajari satu per satu dan menerapkan mana yang cocok.

Tapi jika Anda merasa sedang tidak bersaing dengan siapapun, maka marilah kita bersenang-senang.

Langkah awalnya, kuatkan kembali idealisme usaha Anda.

Idealisme adalah ide-ide, tujuan, strategi, ataupun rencana yang Anda anggap paling ideal. Ini digunakan sebagai pedoman untuk menjalankan usaha Anda.

Idealisme itu seperti jalan yang Anda rancang sebagai fasilitas untuk sampai ke tujuan akhir Anda.

Semestinya, antara jalan yang Anda buat, dengan yang orang lain buat, berbeda, kan?

Baik material (bahan baku) untuk membuat jalan itu sendiri, maupun rute yang akan dilalui.

Ya dong, apa yang ada di otak Anda, tidak mungkin akan sama persis dengan apa yang ada di otak orang lain.

Nah, untuk memastikan bahwa jalan yang Anda buat lebih kuat dan lebih cepat sampai ke tujuan, tentu saja harus ada faktor yang mendukung.

Apa itu :

  • Pengetahuan yang terus diasah.
  • Kepercayaan diri yang tinggi.

“Kunci utama dari idealisme adalah pengetahuan dan kepercayaan diri yang tinggi”

Ini artinya, ketika Anda merasa tidak mempedulikan persaingan, Anda harus memilki pengetahuan dan kepercayaan diri yang cukup.

Jadi, jangan sampai Anda mengatakan bahwa Anda memiliki idealisme, sementara isi kepala Anda kosong.

Lalu, bagaimana cara sederhana memunculkan idealisme, agar bisa dijadikan cara alami bersaing dengan kompetitor?

Sisakan waktu sedikit saja (3-5 menit) dalam sehari, untuk membaca atau menggali ilmu pengetahuan yang mendukung usaha Anda.

Miris, jika seorang yang ingin usahanya berkembang, tidak pernah mencari tahu bagaimana caranya. Ini tidak ideal, dan idealisme macam apa ini?

Untuk Bersaing dengan Kompetitor, Tidak Perlu Berebut Pembeli

Tidak perlu merasa berebut pembeli dengan mereka yang menjadi pesaing Anda. Mengapa?

Karena rejeki itu sudah ada takarannya.

“Waduh, kalau udah ngomong gitu, selesailah! Ini kan lagi nyari strategi. Siapa yang yang nggak kepengin orang yang belanja ke toko lain bisa pindah ke toko kita?”

Sabar… Ngomong-ngomong, Anda buka toko di lingkungan seperti apa?

Kalau Anda buka di kampung, jika semua orang belanja ke toko Anda, lalu bagaimana nasib toko yang lain?

Begini, rejeki itu seperti botol yang diisi air. Anggap saja, botol itu usaha Anda, airnya adalah calon pembeli.

Jika botol Anda kecil, mungkinkah bisa menampung air seember? Ya nggak mungkin lah..

“Masa si nggak ada caranya walaupun toko saya kecil tapi banyak banget yang beli?”

Anggap saja di suatu kampung ada banyak toko. Masing-masing toko, sudah punya pelanggan sendiri-sendiri.

Langganan itu biasanya berasal dari :

  • Orang dengan jarak yang terdekat dengan toko tersebut.
  • Dekat dengan toko lain tapi sudah terbiasa belanja ke toko Anda.

Sekarang, yang Anda inginkan, orang yang biasa belanja ke toko lain akhirnya pindah ke toko Anda, kan?

Pertanyaaannya adalah, “Seberapa penting si mereka harus belanja ke toko Anda?”

Lagi pula, yang dekat-dekat juga ada kok?

Nah di sinilah kuncinya, “Seberapa penting toko Anda bagi mereka.”

Kalau gambaran yang nyata, misalnya begini :

Pak Toto punya anak yang lagi kepengin es krim. Di toko yang paling dekat dengan rumah Pak Toto, tidak menjual es krim.

Lalu, pak Toto tahu bahwa toko Anda menjual es krim. Ia pun beli es krim ke toko Anda.

Ketika membeli es krim, Pak Toto melihat beberapa barang yang tidak tersedia di toko dekat rumah pak Toto.

Misalnya, ada perangkap tikus, alat-alat listrik, pengharum ruangan, pembersih keramik, dan banyak lagi.

Kira-kira, jika suatu ketika pak Toto akan memperbaiki instalasi listrik di rumahnya, atau membutuhkan perangkap tikus, mungkinkah akan berbelanja ke toko Anda?

Ya, sangat mungkin.

Mungkin nggak, selain belanja alat listrik atau perangkap tikus, pak Toto juga sekalian membeli minuman segar di toko Anda?

Wah, mungkin sekali.

Pertanyaannya sekarang, seandainya toko Anda menjual produk yang hanya sama dengan toko yang ada di dekat rumah pak Tono, mungkinkah ia akan mengunjungi toko Anda.

Kemungkinan tidak.

Mengapa akhirnya Anda mendapatkan rejeki dari pak Toto?

Karena toko Anda lebih lengkap dan banyak produk-produk yang tidak dijual di toko lain.

Jika dalam kasus ini toko Anda dianggap lengkap, maka sama artinya, Anda memang punya ember yang bisa menampung air lerbih banyak. Bukan sekadar botol.

Kalau sudah begini, ngapain juga harus rebutan pembeli dengan toko lain?

“Tidak perlu berebut pembeli dengan kompetitor Anda. Jika toko Anda dianggap penting, pembeli akan datang dengan sendirinya.”

Cara Bersaing dengan Kompetitor untuk Warung, Toko dan Minimarket

Lalu, bagaimana jika toko Anda tidak berada di wilayah perkampungan, tapi misalnya di pinggir jalan atau di tempat lannya?

Jawabannya, “Seberapa penting toko Anda bagi calon pembeli Anda?”

Tenang saja, jika toko Anda dianggap penting, secara alami Anda akan menemukan target market (pembeli) Anda sendiri.

Nah, kalau sudah begitu, tinggal poles sana-sini.

Mengoreksi Sikap (Attitude) Diri Sendiri adalah Cara Bersaing yang Alami

Salah satu cara untuk memoles toko, tidak selalu dengan cat tembok, tapi dengan mengoreksi sikap (attitude) diri Anda sendiri.

Ini lumayan menantang!

Sama halnya menebak-nebak pembeli yang pindah ke toko lain, menebak (mengoreksi) sikap diri sendiri, adalah hal yang sangat sulit.

Bahkan, yang lebih sering, mengoreksi orang lain akan jauh lebih mudah ketimbang mengoreksi diri sendiri.

Anda pernah nggak, (selain ngomongin harga), bertanya kepada diri Anda :

“Apa si yang salah dari diri saya?”

Mungkinkah Anda :

  • Terlalu jutek.
  • Kurang peduli.
  • Tidak perhatian.
  • Sombong.

Atau yang lainnya?

Karena dalam usaha (bisnis) sulit untuk menebak orang lain (pembeli), maka satu-satunya cara yang paling tidak merepotkan adalah dengan mencoba menebak diri sendiri.

Sikap (attitude) Anda kepada orang lain, khususnya pembeli, adalah modal dasar. Ini harus dimiliki sebelum akhirnya Anda ngomongin strategi, ide atau bahkan inovasi.

Terkesan sepele mamang. Tapi sikap (attitude) adalah soal jiwa.

Gambarannya seperti ini :

Ketika di pagi hari Anda membuka, Anda berarti mengizinkan orang untuk masuk ke toko Anda. Anggap saja, ada makhluk hidup mendatangi benda mati.

Tapi,  jika di pagi hari Anda membuka toko dan membuka jiwa Anda, maka Anda tidak semata-mata mengizinkan orang untuk masuk.  Melainkan, Anda juga membuka hati, jiwa dan pikiran Anda.

Yang terjadi, ada makhluk hidup (yang berpersaan) disambut oleh makhluk hidup lainnya yang juga berperasaan.

“Sikap (attitude) yang baik, adalah modal dasar untuk mengelola usaha. Itu harus dimiliki sebelum Anda berpikir ide, strategi, atau bahkan inovasi sekalipun.”

Sebentar. Apakah Anda merasa kesulitan untuk memahami perumpamaan semacam ini?

Bagaimana kalau langsung (to the poin) saja?

Silahkan pelajari apa saja sikap-sikap (attitude) yang harus Anda miliki untuk menautkan hati Anda kepada pembeli Anda.

Berikut materinya, silahkan klik untuk menuju ke TKP :

Cara Membuat Pelanggan Ogah Pindah ke Toko Lain dengan Trik Atittude

Jangan Merasa Rugi, Tetap Buka Toko Anda

“Sudah dua tahun lebih toko saya sepi, saya rugi kalau begini. Makanya kadang saya sering tutup, habis males si…”

Anda tahunya rugi dari mana? Bukankah ketika Anda membeli minyak goreng seharga 20.000 dan menjual 23.000 Anda untung 3.000?

“Iya, tapi masalahnya, terlalu banyak barang-barang yang lama tidak laku.”

Ini berarti bukannya rugi, tapi sirkulasi produk yang terhambat.

Penyebab dari permasalahan ini, bisa jadi karena Anda tidak bisa mampu menyeimbangkan antara permintaan pasar dengan penyediaan (belanja) barang.

Contohnya :

  • Tidak memahami dan belanja produk-produk yang selama ini terbukti laku.
  • Mengacuhkan pembeli yang menginginkan ketersediaan produk tertentu.

“Waduh, makin pusing, nih. Intinya tidak laku, masing banyak stok lama yang sampai sekarang belum terjual.”

Jika semua pedagang bisa memastikan bahwa usahanya akan lancar-lancar saja, akan terlalu banyak orang kaya mendadak karena berdagang. Nyatanya tidak, kan?

Mereka yang membuka usaha hingga lancar dan langgeng, sepertinya hanya orang itu-itu saja.

Yang lain, seperti pemain cadangan. Buka usaha setahun dua tahun, lalu menghilang entah kemana.

Pusing itu ya wajar. Bukankah dalam berbisnis selalu ada trial and error (mencoba-coba strategi) lalu memperbaikinya?

Yang jadi masalah, apakah Anda sudah :

  • Memahami dengan cermat di mana titik kesalahannya?
  • Memperbaiki kesalahan tersebut?

“Lalu, untuk stok lama yang sudah kadaluwarsa, harus dibuang? Wah rugi dong?”

Anda tidak akan rugi jika atas kejadian tersebut, kemudian menemukan solusi dan polanya. Lalu, Anda berhasil menentukan strateginya.

Anda cukup jarang membaca buku, artikel atau mengikuti seminar tentang bisnis, kan?

Anggap saja, kerugian tersebut untuk membayar ilmu yang semestinya terus Anda dapatkan, tapi Anda tidak pernah berusaha mencarinya.

Mau dibilang ideal atau tidak ideal, seorang pedagang yang terus-menerus berdagang tanpa berusaha meningkatkan wawasannya, tetap saja tidak ideal.

Apalagi, jika karena sesuatu hal yang tidak dapat Anda atasi, lalu dibarengi dengan sikap pesimis.

Misalnya ya itu tadi, jarang buka toko karena merasa sudah pesimis.

Hati-hati ya, jika toko Anda sering tutup, maka sama artinya Anda menutup rejeki Anda.

Ini artinya, Anda mempersilahkan orang lain (toko lain) untuk menggantikan posisi Anda.

Membuat Pembeli Merasa Nyaman

Kalau Anda mendengar istilah “nyaman” untuk sekelas toko atau minimarket, mungkin pikiran akan akan tertuju pada suasana toko yang bersih, rapih, dan seterusnya.

Kalau menurut kami, itu hanyalah faktor yang mendukung seseorang untuk merasa nyaman.

Pada hakikatnya, nyaman itu ya perasaan nyaman itu sendiri.

Lalu, bagaimana langkah agar pembeli merasa nyaman?

Kami akan memberikan contoh yang cukup norak.

Anggap saja ada perempuan cantik, tiba-tiba memutuskan menerima lamaran seorang laki-laki yang tidak tampan.

Dia bilang, bukan karena tampan yang jadi alasan, tapi karena merasa nyaman.

Kalau ditanya, “Hal-hal (sikap) apa si yang membuatnya nyaman?”. Bisa jadi, si perempuan cantik ini akan menjaweab dua, tiga atau lima alasan.

Tapi kalau diminta untuk menyebutkan 20 atau 30, mungkin akan sulit untuk menjawabnya.

Bahkan, karena saking bingungnya, mungkin dia akan berkata, “Udah, pokoknya yang penting saya nyaman.”

Nah, susah kan?

Tapi begini. Menurut kami, kenyamanan yang diciptakan oleh laki-laki tadi, adalah karena dirinya berhasil untuk mengerti kakarter si perempuan.

Lalu, ia berusaha untuk menyesuaikan karakter tersebut dengan sikap-sikap yang tidak bertentangan (kontradiktif).

Dan itu, dilakukan secara konsisten.

Ya, konsisten. Karena kalau cuma sekali dua kali, kemungkinan si perempuan tidak akan menyimpulkan bahwa aki-laki itu membuat nyaman.

Nah, dalam perdagangan, faktor nyaman juga akan sulit jika harus dideskripsikan satu per satu.

Tapi pada intinya :

  • Ada faktor-faktor yang membuat pembeli merasa dirinya dimengerti.
  • Dan, faktor itu dilakukan oleh Anda secara konsisten alias terus-menerus.

“Kenyamanan pembeli berasal dari kemampuan Anda mengerti dan memahami apa yang diharapkan oleh pembeli. Ini akan efektif jika Anda melakukannya secara konsisten.”

Kami ada usul. Bagiama jika sekarang kita belajar tentang apa saja kira-kira karakter pembeli, lalu kita mencoba mengerti apa yang mereka inginkan?

Teknik ini juga merupakan cara sederhana namun efektif, khususnya untuk menggali lebih dalam bagaimana cara bersaing dengan kompetitor.

Kalau setuju, ini dia materinya :

Cara Menarik Pelanggan ke Toko Anda dengan Memahami Karakternya

Lengkapi dengan Faktor Pembeda

Anda masih ingat tentang es krim dan perangkap tikus tadi? Itu adalah contoh dari faktor pembeda yang berupa produk.

Mengapa dikatakan sebagai faktor pembeda? Tentu saja karena memang berbeda dengan toko yang lainnya atau mereka yang dianggap kompetitor.

Karena berbeda itulah, yang akhirnya pembeli mengunjugi toko Anda.

Nah, selain faktor pembeda berupa produk, Anda bisa mengupayakan faktor pembeda lainnya.

Misalnya, Anda menyediakan fasilitas free wifi (koneksi wifi gratis) yang disertai tempat duduk untuk bersantai.

Hal semacam ini tampaknya sudah dilakukan oleh beberapa minimarket terkenal.

Tujuan yang ingin dicapai, selain pembeli dapat duduk dengan santai, harapannya bisa membeli produk yang ada di toko tersebut.

Contohnya, bisa sekalian pesan kopi, kue, atau yang lainnya.

Tapi apapun itu, pada intinya, faktor pembeda yang diciptakan, harus memiliki tujuan agar menarik orang untuk berbelanja ke toko Anda.

Mempelajari ini, akan membuat hati Anda merasa tenang daripada berfokus pada mengalahkan kompetitor dan mencari cara bersaing dengan kompetitor yang tidak masuk akal.

“Faktor pembeda adalah segala sesuatu yang membuat toko Anda berbeda dengan toko yang lain. Ini yang akhirnya membuat pembeli memutuskan untuk belanja ke toko Anda.”

Berikut kami telah menuliskan materi khusus tentang faktor pembeda yang mungkin dapat Anda jadikan inspirasi untuk toko Anda :

Cara Melayani Customer dengan Faktor Pembeda Supaya Setia dengan Anda

Cara Bersaing dengan Kompetitor untuk Warung, Toko dan Minimarket

Simpulan

Cara bersaing dengan kompetitor untuk warung, toko dan minimarket sederhana pada penjelaskan ini, lebih menekankan agar Anda lebih berfokus dalam mengembangkan dan memantaskan diri Anda ketimbang berorientasi pada persaingan.

Karena rumusnya, jika Anda mampu memberikan kesan bahwa toko Anda dianggap penting oleh target market, dengan sendirinya Anda akan memiliki pelanggan setia.

Pada bagian berikutnya, kita akan belajar trik diskon yang ampuh untuk meningkatkan omzet dagangan Anda. Silahkan pilih “Baca Materi Selanjutnya” di bawah ini :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *