Cara Agar Toko Kelontong Tidak Bangkrut Karena Hutang Pelanggan

Cara Agar Toko Kelontong Tidak Bangkrut Karena Hutang Pelanggan

Posted on

KontenBisnis.comCara agar toko kelontong tidak bangkrut karena hutang pelanggan, akan sangat menarik jika dibahas. Ini sangat cocok untuk Anda yang punya warung atau toko tapi sering kesal karena banyak pelanggan yang hutang!

Hutang Pelanggan dan Resiko Toko Kelontong Bangkrut

Seorang pelanggan yang berhutang itu sebenarnya sedang membagikan masalah hidupnya kepada orang lain.

Seperti ini logikanya :

  • Masalah keuangan awalnya milik pelanggan.
  • Akhirnya menjadi menjadi masalah pedagang.

Apalagi,  jika Anda sekelas toko kelontong yang cuma ambil untung kecil. Permasalahan seperti ini harus benar-benar diwaspadai.

Sudah terlalu banyak pedagang yang hanya sekedar ingin numpang hidup dari usaha kecil-kecilan, namun akhirnya harus tumbang akibat banyak pelanggan yang hutang.

Menurut kami :

“Sebaik dan sekomitmen apapun pelanggan yang berhutang, sedikit banyak akan tetap mengganggu.”

Ini karena perputaran uang (cash flow) yang semestinya lancar, akhirnya tersendat. Ketika perputaran macet, resikonya usaha Anda benar-benar lumpuh!

Kalau Anda sudah tahu bahwa resikonya sedemikian berbahaya, maka jika harus membolehkan pelanggan berhutang, berhati-hatilah.

Anda harus tahu betul :

  • Mana perputaran uang modal.
  • Mana yang merupakan keuntungan.

Dengan begitu, Anda tidak sampai menggunakan uang modal untuk dihutangkan.

Kalau sampai uang modal yang semestinya untuk belanja lagi malah dihutangkan, lhah bagaimana Anda mau belanja lagi?

“Mestinya, yang boleh dihutangkan cuma keuntungan saja.”

Itupun jika dihutangkan tanpa perhitungan, yang terjadi adalah :

  • Anda akan lambat meningkatkan jumlah dan varian produk.
  • Lambat melakukan inovasi dan pengembangan usaha lainnya.

Nah, disinilah pentingnya aplikasi kasir. Dengan begitu, Anda akan tahu mana modal dan mana keuntungan.

Cara Agar Toko Kelontong Tidak Bangkrut Karena Hutang Pelanggan

Mengapa Hutang Membuat Toko Kelontong Bangkrut?

Ketika seorang pengusaha pemula mengalami kebangkrutan akibat dihutangkan, jalan yang biasanya ditempuh adalah dengan berhutang ke bank.

Dari permasalahan :

  • Pelanggan yang berhutang kepada Anda, akhinya :
  • Anda harus menanggung dengan berhutang lagi kepada pihak lain.

Lucu juga ya kalau dipikir?

“Kucuran dana segar yang Anda peroleh dari hutang bank itu, bisa-bisa akan menjadi sumber masalah baru. Terutama, jika kemampuan manajemen Anda belum begitu baik.”

Kalau mau hutang ke bank tapi sudah menguasai setiap lini usahanya, si nggak apa-apa. Tapi kalau cuma modal nekat, wah bahaya juga.

Sekali lagi, kami mengingatkan kepada Anda untuk lebih waspada.

Jika Anda sudah membuka pintu gerbang kemerdekaan bagi pelanggan untuk berhutang, maka Anda harus sudah siap dengan segala konsekuensinya.

Mari kita coba selidiki satu per satu tentang hal ini, termasuk kemungkinan penyebabnya dan bagaimana menyiasatinya.

Baik, kita mulai dari bagian pertama yaitu tentang :

Memahami Karakter Penghutang Agar Toko Kelontong Tidak Bangkrut

Penghutang Tipe 1 – Tidak Sengaja

Penghutang berkategori tidak sengaja boleh dimaklumi. Mereka sebenarnya tidak memiliki jiwa berhutang, tapi tiba-tiba harus berhutang karena alasan yang masih bisa dimaklumi.

Misalnya, karena dompetnya ketinggalan.

Karena Anda tahu persis bahwa dia tidak pernah berhutang, Anda bahkan dengan senang hati menawarkan kepadanya untuk membawa dulu barangnya.

“Udeh, bawa aje dulu, kayak ame siape aje”, begitu kata Anda.

Tanpa berlama-lama, beberapa jam atau tergantung lokasi, ia sudah datang kembali dan melunasi hutangnya.

Okelah, kalau yang begini si masih masuk.

Tapi ingat penghutang kategori ini bisa berubah menjadi berbahaya ketika :

  • Menyalahartikan kebaikan Anda.
  • Tahu Anda baik, malah jadi kebablasan (ngelunjak).

Besok-besok, alasannya bukan lagi dompet yang ketinggalan, tapi suaminya yang ketinggalan.

Sekalipun ini bukan hal yang terlalu lucu, tapi kami ingin mengkritisi Anda bahwa :

  • Sikap baik semestinya tidak dilakukan kepada sembarang orang.
  • Orang yang awalnya baik, tidak selalu konsisten untuk terus melakukan hal-hal yang sama.

Bukan berarti kami meminta Anda untuk berburuk sangka. Tapi untuk urusan usaha, alangkah baiknya jika Anda tetap mengedepankan sisi profesionalisme.

Jika Anda kebetulan menemui kasus semacam ini :

  • Biarkan dia menentukan penyelesaiannya terlebih dahulu.
  • Bukan malah Anda yang memberikan solusinya.

Dengan begitu, Anda akan tetap dianggap profesional. Teman ya teman, saudara ya saudara, urusan profesionalisme usaha mestinya tetap beda dong.

Perbedaan antara Anda sebagai orang baik dan Anda sebagai orang yang bisa dengan mudah dihutangi, itu tipis.

“Jangan sampai kabar mengenai kebaikan Anda tersebar luas dan menjadi sasaran empuk bagi mereka yang berniat buruk untuk sengaja berhutang.”

Penghutang Tipe 2 – Konsisten Berhutang dan Pelunasannya

Penghutang jenis ini konsisten belanja, konsisten berhutang tapi juga konsisten pelunasannya.

Mereka adalah orang-orang yang :

  • Sadar diri, bahwa konsistensi akan melancarkan segala urusan.
  • Konsisten adalah pandangan hidupnya dalam berbisnis.

Penghutang jenis ini jarang sekali meleset. Sekalipun pernah, bukan karena faktor kesengajaan, tapi cenderung karena faktor non teknis.

Pelanggan seperti ini sepertinya akan menjadi aset yang saling menguntungkan antara si pedagang dengan pelanggan, karena :

  • Sudah terbiasa konsisten.
  • Lebih mudah mengontrol laju usaha kita.

Asal terus-terusan konsisten, mungkin Anda anggap bisa ditoleransi.

Tapi tadi di awal, kita kan sudah sepakat bahwa sekomitmen apapun pelanggan yang berhutang, sedikit banyak tetap akan mengganggu.

Mengapa demikian? Jika semua pelanggan konsisten, okelah. Masalahnya, tidak semuanya sama.

Di sinilah perlunya Anda mengkondisikan agar bisa saling menutupi kelemahan satu sama lain.

Anggap saja, diantara para penghutang, 70% konsisten, 30% lainnya tidak.

Maka 20% sisanya untuk mengimbangi yang inkonsisten. Ini hanya gambaran kasar agar usaha bisa berjalan lancar sewajarnya.

Lalu apa yang semestinya Anda lakukan agar toko kelontong tidak bangkrut ketika menghadapi tipe penghutang ini?

Nanti dulu, simak dulu alurnya biar enak :

  • Pertama : Fakta yang sudah kita setujui adalah bahwa sebaik dan sekomitmen apapun pelanggan yang berhutang, sedikit banyak akan tetap mengganggu.
  • Kedua : Dengan demikian, kondisi paling ideal adalah jika tidak ada satupun pelanggan yang berhutang.
  • Ketiga : Jika tidak mungkin mengkondisikan semua pelanggan untuk tidak berhutang, maka harus mengupayakan agar semua pelanggan konsisten waktu pelunasannya.
  • Keempat : Jika mustahil semua pelanggan konsisten pelunasannya, maka Anda harus mengupayakan agar jumlah yang konsisten lebih banyak dibanding yang inkonsisten.

Simpulannya :

“Jika tidak ada kesempatan untuk membuat semua pelanggan tidak berhutang, maka Anda harus mengupayakan agar semua yang berhutang konsisten waktu pelunasannya.”

Tapi apalah daya, kadang semua serba dilematis. Inginnya si nggak ada yang hutang, tapi demi melayani masyarakat dan biar nggak dibilang pelit, terpaksa harus mengeluarkan kebijakan ini.

Apalagi sekarang banyak orang nyinyir. Merasa nggak boleh dihutangi, akhirnya ngambek dan menebar isu tak sedap di sana-sini.

Yang dibilang :

  • Harganya mahal-lah.
  • Penjualnya jutek.
  • Pelayanan lambat.

Dan lain-lain. Intinya ya untuk menjatuhkan si penjual karena kesal tidak dihutangi.

Nah, kami punya usulan untuk mengupayakan agar pelanggan tidak berhutang atau tetap berhutang tapi konsisten pelunasannya.

  • Ajaklah duduk lebih santai.
  • Tawarkan opsi tidak berhutang.
  • Berikan kompensasi tertentu.

Misalnya, Anda memanfaatkan level harga pada aplikasi EQioZMart, lalu tawarkan harga sedikit lebih murah jika tidak berhutang.

Dengan fitur tersebut, Anda bisa membuat level harga sebanyak yang Anda suka.

Ceritakan pula analisisnya (hitung-hitungannya) secara sederhana agar pelanggan semakin yakin.

Misalnya jika tidak berhutang, maka jika :

  • Membeli produk sejumlah sekian, keuntungannya bisa mencapai sekian.
  • Pelunasannya kurang dari tanggal jatuh tempo, berhak mendapatkan harga sekian, diskon sekian, dan sebagainya.

Dengan begitu, cara agar toko kelontong tidak bangkrut, pelan-pelan akan dapat Anda kuasai.

Penghutang Tipe 3 – Jarang Konsisten

Penghutang yang jarang konsisten, tidak bisa dipastikan penulasannya.

Dalam beberapa kali hutang, tampak tepat waktu pelunasannya. Tetapi, tidak jarang yang meleset dan membikin kesal.

Untuk lebih dini mengatasi karakter semacam ini, yang bisa dilakukan adalah :

  • Menawarkan kompensasi seperti pembahasan di atas.
  • Menghimbau agar selanjutnya bisa tepat waktu.

Contoh himabauan, bisa dilakukan dengan menyampaikan secara langsung (tatap muka).

Misalnya dengan kalimat seperti ini :

“Makasih ya Pak Rony sudah melunasi tepat waktu. Kami benar-benar senang dan terbantu dengan hal ini. Sekali lagi, thanks banget nih pak Pak Rony”.

Jika dengan cara-cara lembut seperti itu masih belum efektif, Anda bisa memilih opsi lain dengan cara menghubungi via SMS atau WhatsApp sebelum tanggal jatuh tempo.

Misalnya dengan kalimat seperti ini :

“Selamat pagi Pak Rony, maaf mengganggu aktivitas Anda. Rabu mendatang, 28 Desember 2019, adalah tanggal jatuh tempo hutang Anda. Untuk itu, mohon dibantu pelunasannya ya pak, agar usaha kami tetap berjalan lancar dan dapat terus membantu Anda. Terima kasih”

Dengan terus-menerus mengkomunikasikan secara sopan dan penuh simpatik, diharapkan ada hasil yang diperoleh.

Mudah-mudahan, yang bersangkutan tahu diri dan bergegas melunasi.

Asal JANGAN seperti ini  :

“Selamat siang pak Rony, seminggu yang lalu ada pelanggan kami yang pelunasannya melebihi jatuh tempo dan ia wafat”.

Jangan, jangan seperti itu ya?

Nah, jika keadaan sudah stabil dan pelanggan bersangkutan sudah mengerti kewajibannya, silahkan tawaran opsi level harga, bonus, diskon atau cashbak seperti yang dijelaskan sebelumnya.

Penghutang Tipe 4 – Tidak Konsisten

Tipe ini adalah mereka yang berhutang dan tidak pernah konsisten. Dulu di awal-awal memang pernah konsisten, tapi itu dulu, sekarang tidak.

Didekati dengan model SMS/WA hingga telepon tetap tidak mempan. Bilangnya iya-iya, tapi kenyataannya zong.

Ditawari harga murah jika melunasi sebelum jatuh tempo, pun tetap tidak bisa mendisiplinkan. Selalu saja spik-spik yang nggak jelas banget.

Memang pada akhirnya mengembalikan, tapi alot sekali prosesnya. Jika ditegur secara langsung, eh malah cuma cengar-cengir.

Solusi yang bisa ditempuh adalah membuat aturan yang disepakati bersama.

  • Seperti apa bentuk toleransinya?
  • Sampai kapan waktu pelunasannya?
  • Bagaimana jika tidak mematuhi aturan yang ada?

Setelah memahami dan membahas hal ini, kita jadi tahu bahwa dari awal, Anda harus sudah menjelaskan prosedur dan aturan main utang-piutang di toko Anda kan?

Namanya saja proses, dan untuk membuat aturan semacam itu, memang butuh belajar dari pengalaman yang ada.

Silahkan renungkan dan buat prosedur (aturan) seperti apa untuk mengatasi permasalahan utang piutang di toko Anda.

“Ketika ada pembeli yang baru kali pertama berhutang, sampaikan bahwa ada aturan main yang harus disepakati bersama.”

Demi menjaga kesehatan usaha, Anda harus memastikan bahwa tipe penghutang yang seperti ini jumlahnya tidak terus bertambah.

Jika sudah dianggap membahayakan, segeralah stop dan buat kebijakan yang lebih tegas.

Ini akan jauh lebih tepat untuk menghindari toko kelontong Anda agar tidak bangkrut.

Penghutang Tipe 5 – Hutang Pindah Toko

Penghutang yang pindah toko, sebenarnya orang yang pemalu. Tapi, tidak bisa menempatkan di posisi yang tepat.

Akhirnya, rasa malu itulah yang membuatnya dianggap tak punya malu.

Ia berhutang tapi belum bisa melunasi, lalu pindah ke toko lain, di sana ia bayar kontan.

Uang kontan itu semestinya untuk membayar hutang di toko kita, tapi dibelanjakan di toko lain.

Ada juga yang jika punya uang belanja di swalayan, tapi jika sedang tak punya, ia berhutang di warung terdekat.

Ini adalah karakter yang kurang terpuji, tapi makhluk jenis ini memang benar-benar ada di bumi ini.

Untuk menghadapi yang semacam ini, Anda harus bisa mengidentifikasi apakah setelah pindah ke toko lain :

  • Kembali lagi ke toko kita.
  • Tidak kembali sama sekali.

Jika masih kembali, maka komunikasikan dengan tegas tapi tetap santun. Katakan bahwa seandainya masih punya hutang, tak perlu berpindah toko.

Tetaplah belanja di sini, dan Anda tidak marah jika memang belum mengembalikan.

Bilang bahwa Anda justru tidak berkenan jika ia berbelanja ke toko lain.

Katakan seperti itu dengan suasana kekeluargaan dan untuk saling mendukung kepentingan masing-masing.

Namun, jika ternyata yang bersangkutan tidak pernah kembali lagi, maka akan sedikit sulit.

Penghutang Tipe 6 – Hutang Mencuri

Penghutang ini tidak punya niat baik, mereka memang murni berniat jahat.

Penghutang macam ini sudah tega-tegaan, dimana ada celah berhutang, disitu dia akan melancarkan aksinya.

Dan bukti kejahatannya, dia tidak berpikir tanggungjawab apapun.

Pokoknya sudah hutang ya sudah, ditinggal pergi entah kemana.

Modusnya operandinya :

  • Awal-awal, membeli kontan untuk dua atau tiga kali.
  • Mencoba bersikap baik dan seperti ingin kenal.
  • Mengobrol dan menunjukkan kalau dia baik.
  • Dia mencoba berhutang dengan alasan kepepet.
  • Lalu kabur entah kemana.

Suatu ketika mungkin Anda pernah melihat orang itu, dan berusaha menagih.

Tapi jangan ditanya, ia punya seribu alasan :

  • Memelas.
  • Menjanjikan.
  • Menceritakan alasan ini-itu.

Dan itu semua adalah trik semata.

Kesimpulannya adalah, jangan mudah memberi kepercayaan kepada orang yang tidak dikenal.

Berikan kepercayaan kepada orang-orang yang sudah teruji saja. Ini adalah poin penting agar toko kelontong tidak bangkrut.

Cara Sederhana Mengatasi Hutang Pelanggan Agar Toko Kelontong Tidak Bangkrut

Setelah sebelumnya kita mengenal tipe-tipe penghutang, kini saatnya kita merenungkan bagaimana untuk menghadapi dampak buruk agar tidak merugikan usaha kita.

1. Awali Dengan Tegas Kepada Diri Sendiri

Sebelum terlanjur tegas kepada pelanggan terkait hutang, ada baiknya Anda tegas terhadap diri sendiri terlebih dahulu. Ini penting, sebelum semuanya terlanjur terjadi.

Tegas yang dimaksud adalah keteguhan terhadap prinsip/idelaisme usaha.

Prinsip itu lahir dari keyakinan bahwa jika Anda menjalankan usaha dengan baik, maka Anda kesuksesan akan lebih mudah diraih.

Dengan meyakini itu, maka Anda akan memiliki karakter dalam berbisnis.

Anda akan tumbuh menjadi pengusaha yang berkarakter, dan pelanggan Anda memaklumi itu.

2. Baik Bukan Berarti Boleh Hutang

Sebagai pedagang, Anda tentu dituntut untuk berbuat baik, misalnya :

  • Anda bersikap ramah agar pelanggan senang
  • Bersahabat agar pelanggan betah.

Namun demikian, seperti sempat disinggung pada bagian sebelumnya, bahwa berbuat baik itu tidak sama dengan memudahkan pelanggan untuk berhutang.

Jadi, batas kebaikan hanya pada sikap saja, tidak melanggar profesionalisme usaha.

Banyak sekali pedagang yang akhirnya :

  • Kebablasan.
  • Tak pandai menjaga diri.

Merasa sudah akrab dengan pelanggan, lalu dengan mudah membolehkan hutang. Jangan semudah itu, tunggu dulu.

Anda yang punya kecenderungan mengatakan, “Silahkan bawa dulu, bayarnya besok nggak apa-apa”, akan dengan mudah dijadikan celah oleh pelanggan untuk berhutang.

Sekilas Anda menganggap itu merupakan ekspresi kebaikan dan pelayanan, padahal bukan.

“Terlalu mudah menghutangkan berarti mendidik pelanggan untuk meremehakan diri Anda sendiri dan keseriusan usaha Anda.”

Jika Anda mengalami hal yang demikian, jangan ragu untuk mengungkapkan dengan tegas, bukan malah memberi kemudahan. 

Katakan saja misalnya apakah mau di cancel, atau mau dibeli pada kesempatan berikutnya?

Ketika pelanggan mengatahui sikap tegas Anda, maka ia tidak akan berpikir untuk sembarangan.

Jika perlu, katakan sejujurnya bahwa Anda melakukan itu supaya usahanya tetap bisa jalan.

Jika itu terus dilakukan, maka akan datang suatu masa dimana yang berbelanja ke toko Anda, adalah mereka yang memaklumi bahwa Anda memang tidak menghutangkan.

Harapannya seperti itu.

3. Menjelaskan Aturan yang Ketat

Apabila Anda memang sudah terlanjur membolehkan berhutang, kami menyarankan

  • Miliki aturan perihal hutang piutang yang ketat.
  • Sampaikan aturan itu sejak awal.

Salah satunya, pelanggan boleh berhutang jika :

  • Transaksi pembeliannya sudah mencapai nominal tertentu.
  • Sudah menjadi langganan selama periode tertentu
  • Dan sebagainya

Jika Anda menggunakan aplikasi EQioZMart, tentu bisa mengecek transaksi pelanggan satu per satu untuk dijadikan syarat kebijakan hutang.

Ketika seorang pelanggan sudah memenuhi syarat untuk berhutang, kemukakan juga bahwa:

  • Anda menerapkan tanggal jatuh tempo.
  • Harus ditepati beserta surat perjanjian.
  • Ada konsekuensi jika hal itu dilanggar.

Pada saat yang sama, atau ketika seorang pelanggan sudah layak hutang, katakan juga bahwa ia berhak mendapatkan level harga lebih murah jika dibayar cash.

Ini fungsinya untuk mengunci agar memilih cash saja.

Namun demikian, beberapa pelanggan mungkin akan tetap memilih metode hutang. Silahkan saja, selagi menyetujui syarat yang sudah Anda kemukakan sejak awal. 

Akan lebih baik jika Anda memberlakukan sistem uang muka (deposit). Ini cocok untuk pelanggan yang menjual lagi produknya.

4. Miliki Keterampilan Berkomunikasi

Jika ternyata harus menyisakan hutang, arahkan agar pelanggan memilih produk yang jauh lebih penting.

Misalnya dalam kalimat, “Bu, yang ini besok saja, ini dulu saja ya?”

Itu merupakan bagian dari edukasi kepada pelanggan. Jadi selain Anda berjualan, Anda juga mengedukasi pelanggan dengan mendidik untuk memprioritaskan hal-hal penting.

Ini juga untuk kebaikan pelanggan. Jika Anda rajin menerapkan hal yang demikian, lama-lama pelanggan akan memaklumi.

Sebaliknya, untuk pelanggan yang sudah biasa cash, Anda juga harus terampil menawarkan.

Ada produk yang sekiranya berhubungan dengan yang dibeli, langsung tawarkan.

Misalnya :

  • Seseorang membeli mie instan, maka tawarkan pula sambal atau kecap.
  • Seseorang membeli buku tulis, tawarkan pula sampulnya, bolpennya.

Kunci utamanya, Anda harus luwes dalam berkomunikasi. Anda juga harus berkesan menyenangkan, sehingga orang tak lekas tersinggung dengan apapun trik yang Anda terapkan.

5. Buat Kartu Hutang

Kartu hutang juga penting untuk mengunci pelanggan dalam berhutang.

Di kartu itu, sertakan

  • Paraf pelanggan.
  • Minta ia mengecek setiap kali  transaksi.

Kartu hutang bisa dibuat dengan mencatat :

  • Nomor
  • Tanggal
  • Jumlah hutang
  • Jatuh tempo
  • Tanggal membayar
  • Paraf kedua pihak

Simpan kartu ini baik-baik agar mudah dicari.

Kartu hutang juga merupakan bentuk menghindari kesalahpahaman.

Mungkin ada pelanggan yang merasa sudah melunasi, tapi oleh Anda dianggap belum, atau sebaliknya.

Kartu hutang juga bermanfaat untuk membuat kebijakan hutang berikutnya.

Misalnya tak boleh hutang jika yang sebelumnya belum dilunasi, dan seterusnya.

Cara ini kan efektif untuk menjaga agar toko kelontong tidak bangkrut.

6. Hutang Sejumlah Keuntungan

Misalnya transaksi pelanggan Rp100.000, modalnya Rp80.000, keuntungannya Rp20.000, maka akan dianggap balance jika Anda hanya menghutangkan keuntungannya saja, yakni Rp20.000.

Apabila teknik bisa dilakukan, maka modal Anda tetap utuh. Rugi si pasti rugi, tapi setidaknya modalnya utuh.

Atau jika Anda akan menagih ke pelanggan yang susah ditagih, fokuskan dulu menagih modalnya.

Intinya selamatkan dulu modal Anda agar tidak terjadi permasalahan lanjutan.

Komitmen sejenis ini akan efektif jika dilakukan di awal, ketika pelanggan baru pertama kali berhutang.

Jika pelanggan mau, persilahkan. Tapi jika tidak, tidak masalah. Katakan saja bahwa aturannya memang seperti itu.

7. Merubah Warung dan Toko Menjadi Minimarket

Salah satu cara yang cukup efektif agar toko kelontong tidak bangkrut karena hutang, adalah dengan merubah menjadi minimarket (swalayan).

Mengapa? Karena ketika konsep toko dirubah seperti itu, orang yang biasanya berhutang, akan menjadi sungkan.

Ini karena mereka merasakan aura minimarket yang menyilaukan, sehingga malu sendiri ketika akan berhutang.

Ini asli, bukan sekadar guyonan. Nyatanya, sudah banyak yang membuktikan.

Walaupun, untuk bisa seperti itu, ada satu syarat yang harus dipenuhi.

Apa itu? Kasirnya jangan pakai kalkulator lagi, tapi pakai aplikasi.

Dengan menggunakan aplikasi kasir, orang akan terdorong untuk melakukan transaksi cepat. Ini yang membuat kesempatan berhutang sangat sempit dan merasa dibatasi.

Mau hutang, pastinya akan pikir-pikir dulu. Karena umumnya, di minimarket, berhutang itu bukanlah hal yang wajar.

Bagaimana, apakah Anda tertarik untuk mengubah warung atau toko Anda menjadi minimarket mandiri yang sederhana tapi laris manis?

Jika iya, silahkan baca artikel berikut ini :

Cara Membuat Minimarket Mandiri, Sederhana Tapi Laris Manis

Cara Agar Toko Kelontong Tidak Bangkrut Karena Hutang Pelanggan

Simpulan

Cara agar toko kelontong tidak bangkrut paling sederhana adalah mengendalikan hutang pelanggan. Setelah memahami karakter penghutang, Anda bisa lebih waspada dan menerapkan strategi yang paling cocok.

Pada bagian selanjutnya, kita akan belajar tentang konsep spesialisasi produk, sebuah teknik agar toko laris dan pelanggan bisa berasal dari lokasi yang jauh dari toko Anda. Silahkan pilih “Baca Materi Selanjutnya” berikut ini :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *